Scudeto 26 , Hari bersejarah juventus

Musim 2001/2002, dendam Juventus semakin membara. Dalam dua musim sebelumnya, mereka selalu berkejaran dengan sang juara liga (Lazio dan Roma) tapi selalu berakhir di posisi runner-up. Alessandro Del Piero dan kawan-kawan jelas tak mau mengulang kesalahan serupa.

Hal ini dibuktikan dalam pertandingan pekan pertama. Juventus memuncaki klasemen setelah menghajar Venezia 4-0. Internazionale, lawan ketat mereka di musim tersebut, juga menang 4-1 atas Perugia.

Sayang, permainan Si Nyonya Tua memburuk di pekan keempat. Sejak saat itu, Juventus mencatat rekor tak pernah menang dalam tujuh pertandingan (enam kali seri dan sekali kalah dari Roma 0-2 di kandang sendiri).

Musim 2001/02 tiba di giornata terakhir. Inter memimpin klasemen dengan 69 poin. Di bawahnya, Juventus di peringkat dua dengan 68 poin, dan Roma dengan 67 poin. Bukan hanya partai para pemuncak klasemen, beberapa klub bertarung mati-matian untuk menghindari degradasi hari itu. Tapi tak pelak, mata Italia tertuju pada partai Lazio – Inter (Stadio Olimpico), Udinese – Juventus (Friuli), dan Torino – Roma (Delle Alpi). 



Artinya, Internazionale yang paling berpeluang menang. Apalagi di pekan ke-34, meskipun bertandang, tim Biru-Hitam akan menghadapi Lazio. Sejak dahulu, sudah diketahui umum bahwa Laziale dekat dengan Internisti. Bukan tidak mungkin Lazio akan memberikan kemenangan bagi Internazionale. Hal ini didukung dengan kemungkinan Roma, musuh abadi mereka, akan menjuarai liga jika Inter dan Juventus kalah.

Nyatanya, acara main mata itu tidak pernah terjadi. Di depan Laziale yang konon cenderung membela sang lawan, Lazio menang 4-2. Bencana pun menghinggapi Inter. Di pertandingan lain, Udinese dibekap Juventus 0-2 dan Roma mengatasi tuan rumah Torino 0-1.

Dua gol cepat David Trezeguet dan Alessandro Del Piero, serta gol-gol Karel Poborsky, Diego Simeone dan Simone Inzaghi, mengantar Juve melompat ke peringkat pertama. Inter yang kalah dari Lazio harus tersalip, bukan hanya oleh Juve, tapi juga oleh Roma yang menang atas Torino!

Hasilnya, Juventus menjuarai Liga dengan nilai 71. Roma menyusul dengan 70 poin. Internazionale, yang ingin mengakhiri kerinduan meraup juara sejak 1989, mesti tersaruk di peringkat tiga.

Juventus memboyong gelar ke-26 mereka sekaligus membalas kejadian serupa dua tahun sebelumnya. Kala itu, mereka kehilangan scudetto di pekan terakhir oleh salipan Lazio. Gelar Bianconeri semakin lengkap dengan duduknya David Trezeguet sebagai top skorer musim tersebut dengan 24 gol.